Upacara Bendera Hari Senin, 9 Februari 2026
|
Nama Kegiatan |
Upacara Bendera Hari Senin |
|
Tempat |
Lapangan SMK Profita Bandung |
|
Pembina |
Yulia Herliani, S.Pd. |
|
Pelaksana |
12 AK.1 |
|
Peserta |
Kepala Sekolah, Staf Manajemen Mutu, Bapak/Ibu Guru, TU, Siswa-siswi kelas 12 |
Amanat

Gambar: Ibu Yulia Herliani, S.Pd. Selaku Pembina Upacara
Ucapan terima kasih kepada pelaksana upacara yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik, dan mudah-mudahan petugas upacara berikutnya dapat melaksanakan tugasnya dengan lebih baik lagi.
Sejarah ejaan bahasa Indonesia mengalami evolusi panjang, dimulai dari Ejaan Van Ophuijsen (1901), Soewandi (1947), hingga EYD (1972) dan PUEBI (2015). Perubahan ini menyesuaikan perkembangan bahasa, dengan kembali ke EYD Edisi V sejak 2022, bertujuan menyempurnakan penulisan, kosakata, dan tanda baca agar sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Berikut adalah kronologi perkembangan ejaan bahasa Indonesia:
Ejaan Van Ophuijsen (1901): Ejaan pertama menggunakan huruf Latin dan sistem ejaan Belanda, seperti penggunaan 'oe' untuk bunyi 'u' (contoh: goeroe, doea).
Ejaan Soewandi/Republik (1947): Menggantikan Ejaan Van Ophuijsen. Ciri utamanya adalah perubahan 'oe' menjadi 'u', dan kata ulang boleh menggunakan angka 2 (contoh: anak2).
Ejaan Melindo (1959): Konsep Melayu-Indonesia yang direncanakan untuk menyatukan ejaan dengan Malaysia, namun gagal diresmikan akibat konfrontasi politik.
Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) (1972): Diresmikan pada 16 Agustus 1972. Terdapat penyesuaian seperti dj menjadi j, tj menjadi c, ch menjadi kh, serta j menjadi y.
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) (2015): Menggantikan EYD dengan penambahan aturan, seperti huruf diftong, penggunaan huruf kapital, dan tanda baca.
EYD Edisi V (2022-Sekarang): Kembali menggunakan istilah EYD (Edisi V) yang diresmikan oleh Badan Bahasa, menggantikan PUEBI.
Perubahan ejaan mencerminkan evolusi bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dinamis dan terus berkembang seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ejaan bahasa Indonesia telah mengalami perubahan setidaknya lima kali dari masa ke masa. Perubahan ini terjadi karena bahasa terus mengalami perkembangan.

Gambar: Peserta Upacara
SMK PROFITA BANDUNG