In House Training (IHT) Pancawaluya di SMK Profita Bandung: Membangun Karakter Guru, Mencetak Generasi Unggul
Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, dunia pendidikan dituntut untuk tidak hanya mencetak tenaga kerja terampil, tetapi juga individu berkarakter dan berintegritas. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjawab tantangan ini melalui program Pendidikan Karakter Pancawaluya, yang mengusung lima nilai utama yang diadaptasi dari kearifan lokal Sunda. Nilai-nilai ini menjadi kompas moral dan kompetensi bagi peserta didik di seluruh SMA dan SMK di Jawa Barat.
Salah satu ujung tombak implementasi program ini adalah kegiatan In House Training (IHT) yang digelar di berbagai satuan pendidikan, termasuk di SMK Profita Bandung menyelenggarakan IHT Pancawaluya dengan tema “Menguatkan Karakter, Meningkatkan Kompetensi: Implementasi Pancawaluya dalam Pembelajaran Bermakna” yang dilaksanakan pada hari Senin-Selasa, 3-4 Agustus 2026 bertempat di raung 4-5 lantai 2 berdasarkan surat undangan Kepala Sekolah dengan nomor 7018/424/SMK PROF/VII-2026. Kegiatan ini menjadi langkah strategis sekolah dalam memperkuat implementasi pendidikan karakter berbasis kearifan lokal di lingkungan satuan pendidikan.

Kegiatan IHT ini dihadiri oleh Pengawas Pembina, Ibu Tini Sugiartini, M.Pd., Kepala SMK Profita Bandung Bapak H. Dede Hasanudin, S.Pd., M.M.Pd. Turut serta seluruh guru dan tenaga kependidikan, perwakilan industri, 3 perwakilan orang tua siswa, 5 orang perwakilan siswa.
Dalam sambutannya Kepala SMK Profita Bandung Bapak H. Dede Hasanudin, S.Pd., M.M.Pd. menyampaikan bahwa seluruh guru dan tenaga kependidikan harus dapat mengetahui dan mengimplementasikan Pancawaluya. Perkembangan teknologi ada sisi negatifnya yaitu adanya degradasi moral siswa. Maka melalui IHT Pancawaluya ini kita akan menerapkan budaya 5, 7, 8: Pancawaluya terdiri dari 5 nilai: Cageur (sehat jasmani-rohani), Bageur (berhati baik), Bener (jujur/integritas), Pinter (cerdas/kritis), Singer (terampil/cekatan). Kebiasaan Anak Indonesia Hebat ada 7: Bangun Pagi, Beribadah, Berolahraga, Gemar Belajar, Makan Makanan Sehat dan Bergizi, Bermasyarakat, Cepat Tidur. Pembiasaan SMK Profita Bandung 8: SPASI (Sapa Siswa Setiap Pagi), HATAMAN (Hari Tamat Al Quran), SAHEBAT (Selasa Hebat dan Literasi), GEMES SEKALI (Gerakan Memilah Sampah Sekolah dan Lingkungan), JUMPALAGI (Jumat Panen Pahala dan Berbagi), GELAS (Gerakan Penilaian Kelas), SOIMAH (Shalat Ibadah Berjamaah), 5-S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun). Dengan membangun budaya 5, 7, 8 diharapkan ketika lulus terbentuk karakter siswa yang sesuai dengan visi SMK Profita yaitu Wewujudkan ekosistem pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang berakhlaq mulia, mau bersaing dan berkontribusi positif di masyarakat. Memiliki karakter baik. Sekolah terus mengupayakan bagaimana menciptakan pembelajaan yang ramah anak, membuat anak merasa aman, nyaman dan betah.
Pengawas Pembina, Ibu Tini Sugiartini, M.Pd. dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan IHT PAncawaluya, beliau menyampaikan pesan bahwa proses pembelajaran harus selalu memperhatikan soft skill dan hard skill. Mampu mengestafetkan nilai-nilai CBBPS (cageur, bageur, bener, pinter, singer), mengali kembali kearifan lokal. Pancawaluya merupakan pendidikan karakter, pendidikan karakter merupakan pendidikan kolektif, tidak mandiri, bukan program individual tapi program kolaboratif, membutuhkan kerjasama di rumah, di sekolah, di masyarakat. Perwakiilan dari individu, siswa-siswi SMK Profita yang berkarakter, maka karakteernya akan dilanjutkan dalam dunia kerja tidak perlu adanya pelatihan untuk membentuk karakter siswa, terus ada kesinambungan pendidikan karakter di rumah di sekolah, di tempat industrinya. Adab tanpa ilmu tidak berarti, ilmu dengan adab akan bermakna dan dimulyakan. Karakeristik budaya kerja, membangun kesamaan persepsi.

Kegiatan IHT menghadirkan dua narasumber kompeten, yaitu Ibu Nurlaeni, M.Pd. dan Ibu Dra. Lismaryani Bertin yang memberikan penguatan konseptual dan strategi implementasi nilai-nilai Panca Waluya.
Menguatkan karakter, meningkatkan kompetensi, implementasi Pancawaluya dalam pembelajaran bermakna.
IHT Pancawaluya adalah program In-House Training (pelatihan internal sekolah) bagi guru dan tenaga kependidikan yang berfokus pada penguatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal Sunda, yaitu falsafah Pancawaluya (cageur, bageur, bener, pinter, singer).
Kondisi yang terjadi di kalangan murid saat ini menegaskan bahwa perlunya pendidikan karakter yang kontekstual, membumi, dan berakar pada kearifan lokal.
Pendidikan Karakter adalah usaha sengaja (Cyrider) untuk mewujudkan kebajikan, yaitu kualitas kemanusiaan yang baik secara objektif, bukan hanya baik untuk perseorangan, tetapi juga baik untuk masyarakat secara keseluruhan.
Dimensi Profil Lulusan: keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, serta komunikasi.
Pendidikan Karakter Pancawaluya – Gerakan bersama untuk mewujudkan sumber daya manusia Jawa Barat unggul dan paripurna melalui internalisasi nilai: Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.
Aspek Utama Manusia: Walagri Raga, Walagri Rasa, Walagri Budhi, Walagri Hujung, Walagri Karya.
Kerangka konseptual karakter Pancawaluya sebagai standar kompetensi Lulusan: 4 Pilar Pendidikan UNESCO, Budaya kerja, Inner development goals.
Aktif dalam kehidupan sosial dengan semangat pantang menyerah. Model Internalisasi Nilai dalam Pendidikan Karakter Pancawaluya.
Internalisasi nilai, artinya pengakuan adanya nilai eksternal yang dipandang perlu untuk menjadi milik seseorang. Pentingnya internalisasi nilai, disebabkan karena keyakinan adanya nilai eksternal yg luhur, agung, penting (disepakati) untuk menjadi nilai seseorang atau lembaga.
Dalam proses internalisasi nilai dikenal dua proses, yaitu: pemahaman nilai dan pengembangan nilai.
Landasan Pendidikan Karakter Pancawaluya: Filosofis, Teologis, Sosiologis, Psikologis, Antropologis.
Proses Pembinaan Nilai Gapura Pancawaluya: Transferring – training – modeling – conditioning – habituation –kulturalisasi.
Pendidikan Karakter Pancawaluya: strategi lingkup satuan pendidikan, strategi lingkup kelas, strategi lingkup keluarga dan masyarakat
Strategi Satuan Pendidikan: program sekolah berupa kebijakan, pengelolaan program berbasis asset, perencanaan berbasis data, pengelolaan sumber daya, pengembangan kompetensi guru dan penjaminan mutu/ pembiasaan pada budaya sekolah.
9 langkah pembangunan Jawa Barat sebagai implementasi program pendidikan karakter Pancawaluya: kebersihan lingkungan, peningkatan mutu dan kompetensi guru, pendidikan ekologi, krativitas dan inovasi siswa, perilaku hidup bersih dan sehat dengan membawa bekal makanan dari rumah, optimalisasi penggunaan kendaraan umum/berjalan kaki, pengembanagn ekstrakurikuler, perilaku siswa diluar sekolah, peningkatan pendiidkan keagamaan.
3 Jalur pengembangan karir: Bekerja, Melanjutkan, Wirausaha.
4 kerangka pembelajaran: pengelolaan praktik pedagogis, pengelolaan kemitraan pembelajaran, pengelolaan lingkungan pembelajaran, pemanfaatan digital.
Pengelolaan lingkungan pembelajaran: sosial, mita DUDI dan masyarakat, akademik, era digital.
3 jenis kegiatan utama dalam system pendidikan/kurikulum:
a. Intrakurikuler: kegiatan belajar utama tatap muka sesuai jadwal dan struktur kurikulum
b. Kokurikuler: kegiatan pendukung untuk memperdalam/memperkaya materi intrakurikuler dan penguatan karakter
c. Ekstrakurikuler: kegiatan di luar jam pelajaran.
4 kerangka pembelajaran: pengelolaan praktik pedagogis, pengelolaan kemitraan pembelajaran, pemanfaatan digital, pengelolaan lingkungan pembelajaran.
APK (Alur Perkembangan Karakter) perjalanan batin atau perubahan sifat, emosi, dan pola pikir seorang tokoh dari awal hingga akhir cerita.
Mengelola sampah dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Model Asesmen: observasi langsung, penilaian diri, penilaian antar teman, asesmen proyek.
Mengidentifikasi karakter global yang paling dibutuhkan di Era transformasi digital dan kerja fleksibel: kedidiplinan, kemampuan fisik, mental kuat, kemandirian, tanggung jawab, kejujuran, komunikatif, keramahtamahan, kerja sama.
Model program implementasi pendidikan karakter Pancawaluya baik pada lingkup satuan pendiidkan, lingkup kelas, dan lingkup keluaga dan masyarakat.
Lingkup Satuan Pendidikan (Budaya Sekolah): Penyusunan Kebijakan & Tim Pengarah, Pembiasaan Ekologis & Kedisiplinan, Keteladanan Kepemimpinan.
Lingkup Kelas (Komunitas Pembelajaran): Integrasi Kurikulum Tersembunyi (Hidden Curricula), Proyek Budaya & Pengelolaan Kelas, Penilaian Karakter Formatif.
Lingkup Keluarga dan Masyarakat: Kemitraan Orang Tua (Parenting Program), Aksi Sosial & Pengabdian Masyarakat, Kolaborasi Komunitas Lokal.
Langkah monitoring dan evaluasi melalui outcome harvesting: medisain proses, mengumpulkan informasi dan mengidentfikasi perubahan, reveiew mendiskusikan perubahan, memperkuat perubahan, analisis dan interpretasi, menggunakan temuan.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta IHT mengikuti sesi diskusi, refleksi, dan penyusunan rencana tindak lanjut.
Diskusi dan presentasi kelompok hari Senin: Masalah dan solusi fenomena sosial dalam hal pelanggaran, budaya yang menggambarkan inti Pancawaluya, Prinsip Pembinaan, Kerangka konseptual karakter Pancawaluya sebagai standar kompetensi lulusan.
Diksusi dan Presentasi Kelompok hari Selasa: Intrakurikuler, Kokurikuler, Ekstrakurikuler, 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat
Melalui pelaksanaan IHT Pendidikan Karakter Pancawaluya ini, SMK Profita Bandung semakin meneguhkan komitmennya dalam membangun budaya sekolah yang berlandaskan nilai Cageur, Bageur, Bener, Pinter tur Singer. Diharapkan, nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar terinternalisasi dalam diri seluruh warga sekolah.
Dengan kolaborasi antara sekolah, pengawas, komite, serta seluruh tenaga pendidik, SMK Profita Bandung optimis mampu mewujudkan mewujudkan ekosistem pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang berakhlaq mulia, mau bersaing dan berkontribusi positif di masyarakat. Memiliki karakter baik. Sekolah terus mengupayakan bagaimana menciptakan pembelajaan yang ramah anak, membuat anak merasa aman, nyaman dan betah.

SMK PROFITA BANDUNG